Sejauh Apa Alam Akan “Menghukum” Umat Manusia? #2
Sekarang kita masuk ke kasus kedua nih, yang paling unik dan nyeremin. Jadi, dalam sebuah program berjudul Start Here yang dirilis oleh Al-Jazeera English, di situ dibahas tentang hubungan antara wabah Corona dan serangan belalang di wilayah Timur Tengah dan Afrika.
Oiya, buat temen-temen ketahui, bahwa kata “belalang” disini bukan “belalang” biasa. Jadi kalo di bahasa Inggris belalang biasa disebut Grasshopper (ini belalang kecil-kecil yang paling se-ujung jari). Nah, belalang kecil ini gak berbahaya karena mereka gak banyak makan, umurnya pendek, dan gak bisa terbang jauh. Sedangkan, belalang yang sekarang mau dibahas bukan Grasshopper tapi Locust. Dalam bahasa Indonesia ya belalang juga, tapi Locust ini evolusi dari Grasshopper (kayak Pokemon gak tuh wkwk). Locust ini lebih gede, makannya banyak, dan bisa terbang lintas negara. Gila gak.
Kok Bisa Ada Invasi?
Jadi ini bermula dari taun 2018, ketika kondisi cuaca jadi cenderung basah. Kondisi ini ngebuat Grasshopper berevolusi dan pertumbuhannya jadi cepet banget. Selain itu, PBB mengatakan bahwa dengan masuknya musim penghujan bisa ngebuat pertumbuhan Locust meningkat sampe 20 kali lipat!
Arnold Van Huis seorang ahli serangga dari Wageningen University memberi gambaran misalnya dalam sebuah wilayah seluas 1 kilometer persegi, ada 50 juta Locust. Nah terus kali sendiri deh 20x nya itu berapa. Pasti ada miliaran Locust yang siap menghancurkan tanaman-tanamanan warga yang menajdi sumber pangan.
Serangan Locust ini juga sangat gak tepat. Karena ngepas banget sama musim panen di wilayah Afrika. Kalo sumber pangan mereka ancur semua, jutaan penduduk Afrika bisa terancam kelaparan.
Di Sudan Selatan, Negri yang sedang dilanda konflik, akhirnya punya masa untuk tenang dan masyarakat bisa kembali bertani. Di waktu musim panen ini seharusnya mereka dapat kabar gembira. Tapi sayangnya, jutaan Locust sekarang malah ngebuat mereka harus nanggung penderitaan lebih lama lagi. Menurut Al-Jazeera, dalam kondisi normal aja (tanpa serangan Locust), 5,3 juta warga Sudan Selatan gak punya cukup makanan untuk dimakan, apalagi setelah invasi Locust ini.
Nah sekarang kita masuk ke sesi yang lebih menarik. Kenapa serangan Locust ini baru terjadi sekarang selama bertahun-tahun? Apa penyebab dari meledaknya populasi Locust ini? Seperti yang udah di mention di atas, “cuaca yang cenderung basah”. Ini terjadi akibat perubahan pola cuaca, dan didalangi oleh Perubahaan Iklim yang didorong sama Pemanasan Global. Jadi, perubahan iklim yang berdampak negatif disini ternyata dipicu oleh manusia itu sendiri kayak yang udah kita bahas di artikel seri pertama.
Perubahan iklim ini ngebuat cuaca Timur Tengah jadi aneh. Harusnya, negara Arab cuma kena badai 3x selama 50 tahun ke belakang. Tapi tiba-tiba di bulan mei 2018, badai Mekunu melanda negara Arab. Terus anehnya, 5 bulan setelah itu badai Luban muncul dan nyerang Timur Tengah. Nah, dua badai ini cukup untuk ngebuat basah tanah dari 4 negara Arab (Uni Emirat Arab, Oman, Yaman, dan Saudi). Tanah yang basah ini sangat mendukung Locust untuk berkembang biak. Bahkan menurut Keith Cressman, seorang peneliti belalang, kondisi “basah” nya tanah Arab ini bisa menunjang perkembangbiakan Locust untuk 3 generasi! (Bayangin Locust pertama nikah, punya anak, ini gen.1. Terus anaknya punya anak lagi, ini gen.2. Terus si cucu ini punya anak lagi, jadi deh gen.3. Kebayang ga sebanyak apa Locust yang lahir dari 4 negara Arab ini?).
Terus Desember lalu (2019) badai lain menghantam wilayah Timur Laut Somalia dan Timur Ethiopia. Bahkan kemaren tanggal 12 Maret 2020, Negara Arab dihantam juga sama Badai Naga kan? Nah, hantaman badai ini fenomena yang aneh terjadi di wilayah Timur Tengah-Afrika.
Ini Gegara Perubahan Iklim Tah?
Sulit dikatakan 100% begitu. Daisy Dunne seorang penulis yang bergulat di dunia Sains mengatakan bahwa ada sebuah sistem iklim yang bisa memberi dampak pada sebagian wilayah dunia. Sistem ini disebut Indian Ocean Dipole (IOD). Ketika IOD ini berubah menjadi “fase positif”, maka akan menyebabkan meningkat derastisnya curah hujan, dan membuat badai jadi sering terjadi. Nah para ilmuwan berpikir bahwa yang membuat IOD jadi positif adalah karena adanya Perubahan Iklim.
Locust yang berevolusi dari Grasshopper ini jadi semakin bahaya karena sifat-sifat yang mereka punya. Mereka jadi punya bentuk yang lebih gede, makan lebih banyak jenis tanaman, bahkan otaknya tambah gede juga! Ya walaupun itu ga ngebuat mereka tambah pinter, tapi perilaku mereka berubah. Mereka juga jadi lebih kuat untuk terbang, sampe-sampe jarak terbangnya antara 150-200 kilometer! Sekarang, Locust ini malah udah nyerang sampe Pakistan.
Semua kondisi buruk ini diperparah dengan Pandemi Corona yang masih merajalela. Jadi jelas penduduk yang “kena getahnya” dari serangan Locust ini sangat membutuhkan bantuan. Entah bantuan makanan, atau bantuan bahan kimia untuk melawan Locust. Tapi sayangnya, regulasi Lockdown ngebuat bantuan-bantuan itu gak bisa masuk ke negara-negara yang membutuhkan.
Terus Sekarang Gimana?
Oke, orang Afrika ini kelaparan karena serangan Locust, tapi bukannya Locust ini bisa dimakan ya? Lagian belalang kan sumber bagus buat protein.
Yes tentu aja Locust bisa dimakan dan sumber bagus buat protein. Tapi sayangnya, jumlah Locust yang menyerang itu jutaan. Jumlahnya bener-bener banyak pake banget. Kalaupun mau ditangkepin pun, pasti ga bakal secara signifikan mengatasi serangan Locust ini. Belum lagi kita juga harus milih belalang yang tepat. Karena kalo kita ngambil belalang yang ternyata udah disiriam pestisida, ya sama aja kita ngeracunin penduduk.
Untuk mengatasi ini, Afrika emang udah ngembangin sebuah produk bio-pestisida yang berasal dari jamur. Dan ini efektif membunuh Locust tapi gak berbahaya untuk manusia dan makhluk hidup lain. Tapi bukan berarti pembasmian Locust auto lancar jaya.
Afrika itu luasnya lebih gede dari Canada, US, dan China kalo digabung. Walaupun Locust yang nyerang ini banyak banget, tapi dengan wilayah seluas itu, jelas bakal susah nyari lokasi tepat dimana pestisida harus disebar. Dengan terbatas nya pestisida dan alat penyebar pestisida kayak mobil dan pesawat, ini bakal menimbulkan “Logistical Nightmare” untuk menangani serangan Locust.
Oke, sekarang Linkback. Kita tau Microplastic dan Locust itu masalah untuk dunia dan tergolong sebagai Climate Crisis. Dan dua masalah itu ternyata sumbernya sama, yaitu Perubahan Iklim yang didorong oleh Pemanasan Global.
Ada banyak yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi dalam penanganan Climate Crisis. Dari yang paling sederhana dengan nyebarin kekhawatiran, sampe ikut mengubah pola hidup.
Kurangi penggunaan plastik sekali pakai. Kalo kalian beli soda, beli yang kaleng aluminum aja. soalnya, aluminium lebih gampang didaur ulang. Dan kabarnya, 70% dari aluminium yang pernah diproduksi dunia masih dipake sampe detik ini.
Ngomongin Pemanasan global berarti ngomongin karbon emisi. Kita harus menghindari memperbanyak polusi udara. Bisa dengan mengurangi keluar rumah. Atau milih naik transportasi umum daripada mobil atau motor pribadi. Bisa juga pake kendaraan yang bebas emisi kek mobil listrik, sepeda, atau jalan kaki ehehe.
Tapi ada cara yang lebih kuat dari itu semua, yaitu menyerang dalang utama dari Pemanasan Global.
Sejatinya, Pemanasan Global ini diciptakan paling banyak oleh industri-industri yang sembarangan. Untuk mengejar profit, mereka melanggar beberapa aturan pemerintah yang dibuat untuk menjaga kelestarian lingkungan. Terus kalo ngelanggar, kenapa industri ini gak ditutup atau dihukum? Ya karena mereka Official Sponsor tokoh politik di pemerintah!
Ini yang ngeri. Mereka yang naikin pejabat-pejabat itu dengan uang-uang mereka. Dengan modal kampanye besar, apalagi permainan uang di lembaga pemilihan, ngebuat calon pejabat dengan backing finansial besar bisa menang. Dan mereka kalo udah masuk, bakal jadi “kacung” sponsornya. Akhirnya, industri-industri itu bisa bebas aja berbuat semaunya.
Ini yang ngebuat literasi poilitk kita penting. Ketika hari pemilu dateng, jangan cuma dengan buta memilih satu pihak karena alasan yang kurang kritis. Kia harus melihat apa yang tidak bisa dilihat. Siapa di belakang orang-orang ini. Jangan sampe politik yang dibawa itu politik kepentingan, bukan politik kemaslahatan bersama.
Itu lah ulasan yang bisa saya buat seputar Climate Crisis ini. Kondisi lingkungan lagi gak baik-baik aja. Problema manusia emang banyak banget. Dan kita harusnya generasi yang bakal berkontribusi dalam penyelesaian masalah-masalah itu.
Hard time creates strong men. Stay alive fellas!

Comments
Post a Comment